Ikuti Kami di :            

INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN GIRI

Jl. Batoro Katong No. 32 Ponorogo, Telp. (0352) 461037

Dua Dosen Linguistik INSURI Ponorogo Menjadi Presenter The 6th Annual International Conference on Linguistics di SPs UPI Bandung

May, 09 2018 11:27
Oleh HUMAS INSURI Po.

Sabtu, (05/05) Dua Dosen Linguistik INSURI Ponorogo Menjadi Presenter Dalam Kegiatan The 6th Annual International Conference on Linguistics di SPs Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) yg bekerjasama dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) Bandung pada kesekian kalinya telah menyelenggarakan seminar tahunan linguistik atau yg sering disebut dengan SETALI. Pada kesempatan ini kegiatan SETALI 2018 diselenggarakan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung selama dua hari Sabtu-Minggu, 5-6 Mei 2018 di gedung Lantai 4 dan 5 dan Auditorium SPs UPI. Kegiatan SETALI 2018 merupakan kegiatan yang ke enam kalinya semenjak dilaksanakan pertama kali pada tahun 2013.

Pada kesempatan tahun ini, tema yang diangkat adalah The 6th Annual International Conference on Linguistics; Language Use in the Digital Era, Chances or Threats? Dengan empat narasumber yaitu Michele Zapavigna (University of NSW Australia), Ivan Lanin (Observer Indonesia, Yasraf Amir Piliang, dan Gunawang Jati (ITB).

Menurut Yasraf, bahasa di era digital harus terkonstruksi dengan berbagai modal. Bahasa tidak hanya dipahami secara verbal-nonverbal, akan tetapi bahasa harus mampu berdialog dengan realita masa kini yang serba digital. Seperti telah diketahui, saat ini gawai dalam virtual telah mendominasi realitas empiris baik yang faktual maupun fiksi yg semua aspeknya dilakukan dengan bahasa. Realita ini akan membuahkan disintegrasi bahasa seperti pertarungan bahasa baik dalam kontestasi politik, agama, dan sosial. Dengan demikian, masyarakat pengguna bahasa harus bisa memposisikan diri dalam mengangkat fakta.

Turut menjadi presenter pendamping dalam kegiatan tersebut mewakili INSURI Ponorogo adalah Wahyu Hanafi dan Rizki Amalia Sholihah dengan judul paper "Siyaasah al-Lughah al-Ajnabiyyah Litthawwuri al-Ma'ahid bi indunisia" atau Politik Bahasa Asing dan Hegemoni Pesantren di Nusantara. Menurutnya, eksistensi pesantren pada permulaan abad XX hingga awal abad XXI tidak lepas dari politisasi bahasa asing yang digunakan. Bahasa asing sebagai media demi memajukan eksistensi pesantren akan disistemasikan dengan berbagai metodologi yang relevan dengan kebutuhan santri. Hal ini akan membawa produksi positif terhadap stigma masyarakat bahwa belajar di pesantren tidak hanya belajar rumpun keilmuan Islamic Studies, akan tetapi juga belajar bahasa asing.

Bahasa asing merupakan bahasa pengantar yang harus dikuasai oleh santri dengan berbagai misi. Selain digunakan dalam memahami literatur-literatur keilmuan klasik-kontemporer, bahasa asing penting diajarkan guna menyiapkan generasi yang siap dalam menghadapi globalisasi. Hanafi dan rizki memberikan sampel pesantren-pesantren di Jawa Timur yang sangat survive dalam mengelola bahasa asing sehingga menjadi daya pikat masyarakat untuk memilih pesantren sebagai lembaga pendidikan eksklusif saat ini.

***