Ikuti Kami di :            

INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN GIRI

Jl. Batoro Katong No. 32 Ponorogo, Telp. (0352) 461037

HMPS HES INSURI Po Menggelar Diskusi Hukum

October, 30 2018 13:51
Oleh HUMAS INSURI Po

Sabtu (27/10) Diskusi hukum di kampus INSURI Ponorogo merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HMPS HES) fakultas Syariah INSURI Po. Kajian-kajian dalam diskusi ini guna merespon arus hukum dan hukum Islam yang terus berkembang kian cepat sembari dengan berkembanganya ilmu pengetahuan dan teknologi di belahan dunia.

Kegiatan diskusi hukum pada Sabtu, 27 Oktober 2018 di Aswaja Hall tersebut merupakan kegiatan yang telah dilaksanakan kesekian kalinya. Agenda tersebut juga merupakan kegiatan perdana HMPS HES INSURI Po 2018/2019 setelah dilantik pada pertengahan September kemarin. Puluhan mahasiswa dari prodi HES dan beberapa mahasiswa dari prodi yang lain turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tema yang diangkat dalam diskusi ini adalah “Nalar Moderasi Hukum Islam”. Tema tersebut disampaikan oleh Ahmad Syafii, SJ.,M.S.I selaku dosen tetap fakultas Syariah sekaligus ketua LP2M INSURI Po. Turut menjadi pendamping dekan fakultas Syariah INSURI Po H. Kadenun, M.Ag.

Menurut Syafii, nalar moderasi hukum Islam adalah nalar yang mengandaikan perlunya upaya penyandingkan antara aspek hukum yang legal formal dengan aspek etika. Dengan kata lain, Nalar moderasi hukum Islam meniscayakan penggunaan paradigma integrasi-interkoneksi dalam mengkaji, memahami dan mengembangkan hukum Islam.

Dalam konsepsi paradigma tersebut, oleh karenanya, antara logika rasionalitas dan wahyu; antara syariat dan tasawuf, tidak dapat diposisikan secara struktural, tetapi diletakkan dalam hubungan fungsional. Sehinnga antara nalar dan wahyu; antara syariat dan tasawuf, dapat berjalan secara harmonis dan saling mendukung menuju kebenaran ilahi. Dalam bangunan keseimbangan ini pulalah tahap-tahap pendakian menuju kesempurnaan hidupbisa terwujud, yakni antara rasionalitas, moralitas, dan akhirnya spiritualitas serta antara syariat, thariqat dan akhirnya hakekat-ma’rifat (iman, Islam, dan ihsan; akidah, syariat dan akhlaq). Karena itu, upaya penyandingan antara syariat dengan tasawuf, menjadi syarat mutlak bagi kesempurnaan seorang Muslim. Jika akidah bersimpul pada keenam rukun iman, sementara shariah merupakan elaborasi dari kelima pilar Islam, maka tasawuf/akhlak berpangkal pada ajaran ihsân.

***